Menelusuri Kebakaran Hutan di Indonesia dalam Beberapa Tahun Terakhir

INFOGRAFIK

2/5/20261 min read

Indonesia memiliki bentang alam yang luas dan beragam, mulai dari hutan hujan tropis hingga kawasan savana. Namun, terlalu panjangnya musim kering di wilayah ini, ditambah padatnya intensitas aktivitas manusia membuat sebagian arena rentan terhadap kebakaran hutan dan lahan.

Pantauan SIPONGI melaporkan bahwa angka kebakaran hutan di Indonesia masih naik turun selama periode 2018-2025. Puncak kejadian terjadi pada 2019, 1.65 juta hektar lahan terbakar habis. Bahkan, akumulasi kebakaran pada periode pantauan sudah hampir menyentuh 5 juta hektar. Ini menunjukkan kebijakan pencegahan kebakaran hutan belum sepenuhnya selaras dengan kondisi iklim dan kondisi lapangan di Indonesia.

Kebijakan pencegahan kebakaran hutan tidak bisa disamaratakan di setiap provinsi. Perbedaan karakteristik iklim tahunan, jenis vegetasi, dan aktivitas manusia membuat kondisi tiap wilayah di Indonesia tidak sama. Misalnya, Nusa Tenggara Timur dan Sumatera Selatan yang kerap dilaporkan mengalami kehilangan hutan tertinggi, masing-masing sekitar 850 hektare dan 515 hektare. Padahal, karakteristik geografis kedua wilayah ini berbeda, sehingga faktor aktivitas manusia juga menjadi penentu penting dalam terjadinya kebakaran hutan di Indonesia.

Dampak kebakaran hutan tidak hanya berhenti pada kerusakan lahan. Asap yang dihasilkan menurunkan kualitas udara dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan masyarakat. Ketika hutan rusak, keseimbangan ekosistem di dalamnya ikut terganggu, yang pada akhirnya menimbulkan berbagai kerugian bagi makhluk hidup. Karena itu, data kerusakan hutan bukan sekadar angka yang dilaporkan setiap tahun, melainkan cerminan pentingnya kebijakan pencegahan, pemulihan, dan perlindungan hutan yang lebih tepat dan berkelanjutan.