Yamal Tak Bisa Lagi Digendong Messi, Peluang Spanyol Menang Lebih Besar

INFOGRAFIK

Akbar Rafsanjani

7/19/20263 min read

Ternyata semifinal itu hasilnya sesuai dengan prediksi berbasis data bukan harapan saya. Sejak mencetak satu gol, Inggris memang terpaksa untuk memarkir semua pemainnya di gawang Pickford. Argentina menyerang hampir seluruh sisa menit pertandingan. Dua gol Argentina dicetak di menit-menit terakhir pertandingan. Gol penyama kedudukan dicetak oleh Enzo Fernandez pada menit ke-85 lewat assist dari Messi, gol kedua dicetak Lautaro Martinez di menit 90+2 juga lewat assist Messi. Argentina berhasil masuk final setelah mengalahkan Inggris dengan skor 1-2.

Mau tidak mau harus kita terima dengan lapang dada bahwa kali ini takdir telah memilih mengikuti prediksi statistik. Seberapa pun menyesakkannya bagi penggemar Inggris seperti saya. Setidaknya Inggris memenangkan pertandingan perebutan gelar juara ketiga tadi pagi pukul 04.00 WIB. Inggris berhasil mengalahkan Prancis dengan skor 6-4, dan Saka mencetak hattrick.

Senin dini hari nanti, laga final Piala Dunia 2026 akan mempertemukan Spanyol dan Argentina. Analisa statistika Spanyol berhadapan dengan Argentina menunjukkan peluang Spanyol menang lebih besar 2% dibanding Argentina dalam 90 menit pertandingan. Probabilitas seri sehingga butuh waktu tambahan sebanyak 28%. Artinya, kedua tim punya kemungkinan cukup besar untuk menjuarai piala dunia tahun ini. Kali ini apa yang kami prediksi untuk final sejalan dengan yang muncul di Google. Namun angka perseratusnya kemungkinan menang Spanyol dan Argentina berbeda lebih jauh, yaitu beda 15% (terakhir diakses 19 Juli, pukul 22.00 WIB).

Sejauh ini Spanyol lebih unggul dalam penguasaan bola dibanding Argentina. Tetapi Argentina lebih unggul dalam jumlah gol per pertandingan dibanding Spanyol. Jika Spanyol berhasil memecah kebuntuan-kebuntuan gol lewat striker maupun gelandang serang mereka, lebih besar kemungkinan Spanyol menjuarai piala dunia.

Bukannya tidak ada alasan kenapa saya berasumsi bahwa masalah Spanyol adalah pada mencetak gol. Spanyol mencapai final juga walaupun analisa sebelum Piala Dunia memprediksi rata-rata cetak gol Spanyol seharusnya lebih tinggi. Namun tingkat keberhasilannya lebih rendah daripada Argentina (13 gol dari 120 percobaan vs 19 dari 113) meski jumlah percobaan ke gawangnya justru lebih tinggi. Itu kenapa jika Luis de la Fuente fokus pada masalah ini, Spanyol bisa mengoleksi gol lebih banyak pada laga final lewat bomber mereka. Tetapi bomber yang diharapkan justru ada di pihak Argentina, Lionel Messi.

Singa kecil itu masih cukup berbahaya bagi tim lawan, tidak hanya golnya, tetapi juga assistnya. Seperti pada laga semifinal melawan Inggris. Itu kenapa Argentina bisa menekan Inggris dalam sisa babak kedua pada laga semifinal kemarin. Argentina punya chemistry yang cukup kuat antar pemain, semua bekerja untuk Messi termasuk pemain belakang seperti Lisandro Martinez. Mungkin saja strategi mereka dibangun agar Messi dapat menghemat tenaga? Argentina kebanyakan melakukan penghentian serangan lawan di area bertahan (mendekati gawang sendiri) dan menyerang saat menilai ada kesempatan dan kebutuhan di akhir. Sementara Spanyol lebih sering memberi tekanan tinggi (mendekati gawang lawan) dan menghentikan serangan di area tengah (sebelum mendekati gawang sendiri).

Kedua tim memiliki gaya bermain yang berbeda; Spanyol dengan tiki-taka modern, Argentina dengan blok rendah yang disiplin dan serangan balik atau transisi cepat. Jika strategi mereka dipertahankan, pertandingan yang cukup menarik akan kita saksikan. Spanyol akan lebih sering menyerang. Pemain belakangnya Argentina akan menahannya, dan kemudian melanjutkan dengan serangan balik kilat jika memungkinkan. Siapa yang mampu menciptakan gol di setiap serangannya, akan unggul. Pertandingan yang lebih menarik lagi akan kita saksikan jika Spanyol bertahan sampai akhir. Dapatkah pemain muda Spanyol tetap semangat menyerang dan menguras habis strategi Messi sehingga tidak ada lagi kemenangan babak dua untuk Argentina?

Gaya keduanya berbeda dengan gaya kick and rush Inggris. Dalam laga semifinal Inggris dipaksa parkir bus, istilah yang digunakan Mourinho ketika frustrasi saat Chelsea ditahan imbang Tottenham di Liga Premier. "Mereka membawa bus dan meninggalkannya di depan gawang mereka”, walaupun akhirnya taktik parkir bus ini melekat pada Mourinho yang pragmatis. Taktik yang sama juga yang membawa Chelsea menjuarai Liga Champions 2012 setelah mengalahkan tiki-taka Barcelona di semifinal. Saat itu Chelsea benar-benar parkir bus. Roberto di Matteo menjadi arsitek parkir bus Chelsea menjuarai Liga Champions 2012. Namun, Thomas Tuchel tidak seberuntung Roberto di Matteo menghentikan Messi lewat parkir bus. Inggris harus rela kembali menunggu sepak bola pulang ke rumahnya.


Apakah sebagai penggemar Inggris saya harus mendukung salah satu tim di final nanti? Jika iya, tentu saja saya akan mendukung Spanyol. Iya, saya ingin Argentina gagal di final kali ini walaupun saya tetap tidak membenci Messi. Tim Argentina sudah menggagalkan Inggris dan baru saja menjadi juara Piala Dunia yang lalu. Tapi ada yang lebih dari itu, lebih dari keinginan saya untuk melihat pemuda Spanyol mengguncangkan Argentina. Saya telah melihat datanya. Terkadang data dingin lebih bagus pilihannya dibanding hasrat manusia.

Subscribe to our newsletter
© 2025 ISSED | ALL RIGHTS RESERVED
Media Sosial
Ikuti kami di media sosial dan mari terhubung!