Peta Adopsi AI di Kawasan ASEAN Tahun 2025
INFOGRAFIK
2/6/20261 min read
Adopsi kecerdasan buatan (AI) adalah penerapan teknologi AI dalam berbagai aktivitas untuk meningkatkan produktivitas dan mendorong inovasi. Dalam ranah kenegaraan, sebuah negara dikatakan telah mengadopsi AI ketika teknologi ini digunakan setidaknya pada satu fungsi pemerintahan, seperti layanan publik, pengelolaan data, atau proses administrasi. Penerapannya pun beragam, mulai dari otomatisasi sederhana hingga penggunaan AI tingkat lanjut, termasuk aplikasi AI generatif.
Fenomena “AI Boom” mulai terasa kuat sejak awal 2020-an, terutama setelah peluncuran ChatGPT oleh OpenAI. Hingga kini, AI bukan sekadar alat teknologi biasa, melainkan terus berkembang sebagai sarana untuk memecahkan masalah, meningkatkan efisiensi operasional, dan mendukung pengambilan keputusan. Seiring pesatnya perkembangan tersebut, adopsi AI kini menjalar ke erbagai sektor, mulai dari industri, pemerintahan, keuangan, kesehatan, hingga pendidikan.
Lantas, sejauh mana adopsi AI telah berlangsung di negara-negara ASEAN? Laporan Global AI Adoption 2025 mencatat bahwa Singapura—sebagai negara paling maju di kawasan ini—telah mengadopsi AI hingga hampir 60,90% dalam aktivitas kenegaraannya. Angka ini tidak hanya tertinggi di ASEAN, tetapi juga adopsi AI tertinggi kedua di dunia.
Sementara itu, negara-negara ASEAN di kelompok menengah masih berada pada kisaran yang cukup jauh di bawah Singapura. Vietnam mencatat sekitar 21,10%, disusul Malaysia (19,70%), Filipina (18,20%), Indonesia (12,70%), dan Thailand (10,70%). Di bawahnya lagi, terdapat Myanmar (9,10%), Laos (6,70%), dan Kamboja (5,10%). Meski demikian, seluruh negara tersebut menunjukkan tren peningkatan adopsi AI dari tahun ke tahun, meskipun dengan laju yang berbeda-beda.
Adopsi AI memang berpotensi mendorong kemajuan negara, namun penerapannya tidak selalu mudah. Tantangan utama sering kali datang dari keterbatasan sumber daya manusia, pendanaan, dan kesiapan infrastruktur. Singapura, misalnya, mampu mengalokasikan dana besar untuk pengembangan teknologi karena kebutuhan dasarnya telah relatif terpenuhi, ditambah ketersediaan talenta dan keahlian yang memadai. Sebaliknya, negara dengan kapasitas ekonomi lebih terbatas seperti Laos dan Myanmar masih menghadapi kendala besar, baik dari sisi pendanaan maupun kesenjangan pengetahuan, yang membuat adopsi AI belum dapat berkembang secara pesat.


