Seberapa Aman Dunia bagi Perempuan?

INFOGRAFIK

Durratul Muna

7/28/20264 min read

"Kalau suatu hari nanti aku punya kesempatan bepergian sendirian ke luar negeri, negara mana yang akan kupilih?"

Dulu, mungkin aku akan menjawab berdasarkan pemandangan, musim, atau makanan khasnya. Namun, semakin sering melihat perempuan membagikan pengalaman solo traveling di media sosial, pertanyaanku berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih sederhana.

"Negara ini aman nggak ya untuk perempuan?"

Bagi seseorang yang tidak terlalu berani seperti aku, membayangkan bepergian sendirian ke luar negeri saja sudah terasa menantang. Namun, pemandangan yang indah itu terlalu disayangkan jika hanya dinikmati lewat layar telepon pintar. Aku ingin melihatnya secara langsung, budaya baru, bangunan-bangunan indah dengan sejarah yang mengakar kuat, menyaksikan matahari terbit dan terbenam dengan suasana yang berbeda sambil membaca buku, serta menikmati musim yang tidak dimiliki tanah air kita.

Akan tetapi, bagi seorang perempuan, maraknya berita akhir-akhir ini mungkin akan menghambat keinginan besar mereka untuk melakukan perjalanan wisata seorang diri.

Sejak saat itu, aku tidak lagi langsung mencari tempat wisata terlebih dahulu. Aku justru mencari tahu bagaimana kondisi perempuan di negara tersebut. Karena perjalanan yang menyenangkan bukan hanya tentang destinasi yang indah, tetapi juga tentang bisa menikmati setiap langkah tanpa terus dihantui rasa khawatir.

Rupanya, kekhawatiran ini bukan hanya perasaanku sendiri. Sebuah survei yang dilakukan pada 2.000 perempuan Amerika Serikat oleh Talker Research mengungkapkan bahwa 9 dari 10 perempuan sepakat bahwa rasa aman menjadi salah satu pertimbangan penting saat memutuskan ke mana akan berwisata. Artinya, pertanyaan "apakah tempat ini aman?" ternyata dialami hampir semua perempuan yang ingin menjelajahi dunia.

Kalau begitu, adakah data yang dapat membantu melihat gambaran kondisi perempuan di berbagai negara?

Salah satu jawabannya adalah Women, Peace and Security (WPS) Index 2025/2026. Indeks ini tidak dirancang khusus untuk menilai apakah suatu negara aman atau tidak bagi wisatawan perempuan. Namun, WPS menggambarkan kondisi perempuan di suatu negara berdasarkan tiga aspek utama, yaitu inclusion (keterlibatan), justice (keadilan), dan security (keamanan). Ketiga aspek tersebut dihitung dari 13 indikator yang berbeda. Dengan demikian, WPS ini dapat menjadi salah satu referensi bagi wisatawan perempuan untuk mendapatkan gambaran terkait kondisi perempuan di berbagai negara.

Ketika melihat petanya, satu hal langsung terlihat jelas: kondisi perempuan di berbagai belahan dunia ternyata masih sangat beragam. Beberapa negara berhasil menciptakan lingkungan yang lebih mendukung bagi perempuan, sementara negara lainnya masih menghadapi tantangan. Perbedaan tersebut terlihat jelas melalui peta dunia, di mana negara-negara dengan skor WPS tertinggi dan terendah tersebar pada kawasan yang sangat berbeda.

Lalu muncul pertanyaan berikutnya.

"Mengapa negara-negara tersebut berada di posisi paling bawah?"

Rendahnya skor WPS tidak disebabkan oleh satu faktor saja. Negara-negara dengan skor terendah di atas terbukti mengalami berbagai permasalahan yang terjadi secara bersamaan.

Di sisi konflik bersenjata, misalnya, pada lima negara dengan skor WPS terendah, rata-rata 77,2% wilayahnya berada dekat dengan zona konflik aktif.

Kondisi ini tentu berdampak pada rasa aman sehari-hari. Dari lima negara di atas, hanya 37,4% perempuan yang merasa aman berjalan sendirian di lingkungannya.

Konflik yang berkepanjangan juga meningkatkan kekerasan yang menyasar perempuan. Sudan mencatat 0,425 korban kekerasan politik per 100.000 perempuan.

Di sisi lain, perlindungan hukum melemah. Afghanistan mencatat skor keadilan terendah, hanya 0,2 dari skala 0-4 menurut Indeks WPS.

Kondisi tersebut juga berdampak pada layanan kesehatan. Di Republik Afrika Tengah, sistem kesehatan yang melemah akibat konflik menyebabkan angka kematian ibu mencapai 692 kematian per 100.000 kelahiran hidup, salah satu tertinggi di dunia.

Deretan angka ini menunjukkan bahwa rendahnya skor WPS bukan hanya kebetulan, melainkan cerminan kondisi negara tersebut yang memprihatinkan dan memengaruhi kualitas hidup perempuan.

Namun, dunia tentu terlalu luas untuk dijelajahi sekaligus. Jika suatu hari nanti benar-benar memiliki kesempatan berwisata, aku juga tidak mungkin mengunjungi seluruh negara di dunia. Kemungkinan besar, aku akan memulai dari negara-negara yang lebih akrab di telingaku dan sering menjadi tujuan wisata orang Indonesia.

Karena itu, aku mulai penasaran dengan negara-negara yang justru menjadi tujuan favorit wisatawan perempuan Indonesia.

"Apakah kondisi perempuan di negara-negara tersebut juga relatif lebih baik?"

Jika melihat negara-negara yang paling sering dikunjungi wisatawan perempuan Indonesia, muncul temuan yang cukup menarik.

Beberapa negara yang menjadi tujuan favorit wisatawan perempuan khususnya Indonesia juga memiliki skor WPS yang cukup tinggi dan berada di atas rata-rata global. Mungkin negara-negara tersebut juga dikunjungi karena kondisi perempuan secara umum di sana relatif lebih baik dibandingkan banyak negara lain berdasarkan indikator yang diukur dalam Indeks WPS.

Ini sejalan dengan survei yang dilakukan oleh Talker Research sebelumnya: rasa aman menjadi salah satu pertimbangan penting bagi wisatawan perempuan. Walaupun bukan satu-satunya faktor, informasi mengenai kondisi perempuan di suatu negara dapat menjadi referensi tambahan sebelum memutuskan untuk bepergian.

Kembali ke pertanyaan awal tadi.

"Negara ini aman nggak ya untuk perempuan?"

Jawabannya tidak sesederhana angka pada sebuah indeks.

WPS tidak dapat menjamin keamanan seorang perempuan ketika berwisata di suatu negara.

Tapi setidaknya, dengan mencari tahu negara-negara yang dikenal relatif lebih aman bagi perempuan, aku bisa mulai memasukkannya ke dalam buku impian.

Mungkin Jepang akan menjadi negara pertama yang kutulis di halaman buku impianku. Bukan semata karena keindahan alam, budayanya yang menarik, serta kuliner lezat yang ditawarkan, tetapi juga karena kondisi perempuan di sana yang relatif lebih baik dibandingkan dengan banyak negara lain di dunia.

Aku membayangkan diriku berada di sana, beristirahat di atas anyaman tatami sambil menikmati secangkir teh hijau tradisional Jepang yang dijagokan banyak orang akhir-akhir ini. Rasa khawatir memang tidak akan pernah benar-benar hilang. Namun, setidaknya aku bisa melangkah dengan bekal informasi yang lebih baik.

Karena pada akhirnya, perjalanan wisata bukan hanya soal mengunjungi dan menikmati keindahan semata. Perjalanan juga harus aman sehingga kita dapat pulang ke rumah dengan selamat.

Narator: Durratul Muna

  • Tulisan: Durratul Muna, Nissa Amrina

  • Design: Manisah Maharani, Durratul Muna

  • Data: Durratul Muna, Manisah Maharani

Subscribe to our newsletter
© 2026 ISSED | ALL RIGHTS RESERVED
Media Sosial
Ikuti kami di media sosial dan mari terhubung!