Akankah Messi Membalas Dendam Argentina pada Inggris?

Pengalaman menebak juara piala dunia ditambah analisis data Elo.

INFOGRAPHICS

Akbar Rafsanjani, Salsabila Mahdi

7/15/20265 min read

Bau serbuk kayu terasa menyengat. Saya bersama empat orang teman bertemu di panglong kayu depan rumah saya di Gampong Blang Garot, Kabupaten Pidie, Aceh. Panglong kayu baru akan beroperasi pukul 11.00 WIB. Saya dan teman-teman memanfaatkan sunyinya panglong kayu pagi itu untuk merencanakan sesuatu.

Saat itu sedang masa libur sekolah, bertepatan dengan berlangsungnya Piala Dunia 2002 di Korea Selatan dan Jepang. Saya telah menggemari tim nasional Inggris sejak Piala Dunia 1998 di Prancis berakhir. Awalnya saya adalah seorang penggemar tim nasional Brasil, seperti kebanyakan anak-anak zaman itu. Brasil memiliki pemain bintang yang diidolakan anak-anak. Nama-nama seperti Ronaldo, Rivaldo, Roberto Carlos, dan Cafu membentuk formula yang seolah pasti memenangkan Piala Dunia 1998. Namun, Brasil tidak beruntung. Mereka kalah 0-3 dari tuan rumah Prancis. Mulai saat itu saya tidak lagi mendukung Brasil di turnamen internasional. Saya juga mulai mendukung tim nasional Inggris karena David Beckham, gelandang Manchester United yang terkenal dengan tendangan pisangnya.

Saya mengambil pembungkus timah dari suatu bungkusan rokok Ardath dan mulai menulis prediksi skor untuk pertandingan antara Inggris versus Argentina. Inggris dan Argentina tergabung dalam Grup F untuk fase grup. Prediksi skor dimulai dengan 0-0, 1-0, 0-1, 1-1, 1-2, 2-1, 2-2, 2-3, 3-2, 1-3, 3-1, 3-3, dan seterusnya (dengan posisi laga Inggris vs Argentina) tergantung berapa jumlah peserta yang ikut tebak skor. Itu adalah kali pertama saya mengikuti tebak skor. Anak-anak di Garot mengikuti cara yang digunakan oleh kebanyakan penjudi skor bola yang menciptakan model tebak skor secara mandiri. Seperti yang saya lakukan, hanya bermodal kertas pembungkus timah dan sebuah pena atau pensil. Kertas tersebut dipotong-potong sesuai dengan skor yang dipilih oleh peserta yang ikut menebak, sebagai bukti jika tebakannya benar, mereka akan mengambil keuntungan dari total jumlah uang yang dikumpulkan. Dalam kasus saya dan teman-teman, kemenangan hanya sekadar diakui hebat oleh teman lainnya. Tebak skor hanya menjadi pemanis ketika menonton bola. Tidak ada uang yang diambil, kami tidak berjudi.

Kendati demikian, memilih skor juga tidak tanpa alasan. Prediksi sering kali menggunakan insting atau sekadar memiliki pemain idola di timnas tersebut. Paling mutakhir berdasarkan statistik umum beberapa pertandingan sebelumnya. Saya memilih 1-0 kemenangan untuk Inggris atas Argentina. Saya yakin David Beckham akan mencetak satu gol untuk kemenangan Inggris. Saya menonton pertandingan tersebut di salah satu rumah warga di Gampong Blang Garot yang mendapatkan siaran langsung Piala Dunia 2002 di Korea Selatan dan Jepang lewat kanal televisi Thailand. Sebuah kemahiran bagi tukang reparasi televisi masa itu bisa menggeser parabola dan menyetel ID di perangkat digital untuk mendapatkan siaran televisi luar negeri.

Beckham's Penalty Kick. Argentina vs England. 2002 FIFA World Cup in Sapporo Dome.
Beckham's Penalty Kick. Argentina vs England. 2002 FIFA World Cup in Sapporo Dome.

Dua puluh empat tahun yang lalu, tebakan saya ternyata benar. Padahal hanya menggunakan insting dan berharap pemain idola mencetak gol. Setelah dua dekade lebih, Inggris dan Argentina bertemu kembali di semifinal Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Pada pertandingan semifinal yang lain, Spanyol akan berhadapan dengan Prancis. Berdasarkan selisih poin pemeringkatan Elo, keempat tim sebenarnya masih memiliki kesempatan untuk masuk pertandingan final dan menjuarai Piala Dunia 2026.

Inggris bukan tim yang dijagokan untuk menjuarai Piala Dunia kali ini, jika dibandingkan dengan tiga tim lainnya. Walaupun Inggris mampu mencapai final pada Piala Eropa 2024 dan 2020, dan semifinal Piala Dunia di Rusia pada 2018, Thomas Tuchel (manajer timnas Inggris) sendiri tidak optimis Inggris akan menjuarai turnamen bergengsi empat tahunan ini. Tuchel mungkin benar, Inggris menempati posisi keempat pada pemeringkatan Elo. Posisi pertama ditempati oleh Argentina dengan 2141 poin, diikuti Spanyol 2135 poin, dan Prancis 2122 poin. Pada posisi terakhir, Inggris hanya mengumpulkan 2051 poin berdasarkan perhitungan pemeringkatan Elo. Walaupun demikian, posisi Inggris cukup stabil dalam lini masa Elo. Dimulai sejak awal dimulai turnamen Piala Dunia di Uruguay tahun 1930 hingga hari ini. Dibanding dengan Prancis maupun Argentina yang sempat menurun pada periode 1970-an.

Meskipun tidak dijagokan, saya tetap berharap besar Inggris mengalahkan Argentina di semifinal pada Kamis dini hari, 16 Juli 2026. Harapan saya sekarang tentu saja berbeda dengan keajaiban dua puluh empat tahun yang lalu. Argentina memiliki seorang pemain bintang yang bisa diandalkan untuk memenangkan setiap pertandingan. Lionel Messi adalah mesin pencetak gol. Dengan giringan bola yang menempel di sepatunya, dengan mudah Messi melewati lini pertahanan tim lawan.

Messi adalah salah satu pemain paling berdampak dan paling tua pada semifinal tahun ini. (klik untuk perbesar)

Argentina tanpa Messi bukanlah apa-apa. Kemungkinan Argentina kalah lebih besar jika Messi absen. Inggris masih punya Harry Kane, Bukayo Saka, dan Gordon, jika Jude Bellingham absen. Pengaruh Lautaro Martinez, Enzo Fernandez, Mac Allister, Lisandro Martinez, dan Julian Alvarez lebih kecil bahkan sangat senjang jika dibandingkan dengan pengaruh Messi bagi Argentina. Messi memang lebih tua 6 tahun dari Harry Kane dan 16 tahun dari Bellingham, tetapi dampak jika dia absen bagi Argentina cukup besar dibandingkan jika dua pemain Inggris tadi absen bagi timnya.

Messi diharapkan dalam kondisi bugar dan siap bermain menghadapi Inggris. Sebuah pertandingan yang spesial baginya. Messi hampir belum pernah bermain menghadapi tim nasional Inggris dalam sejarah kariernya. Apalagi ini semifinal Piala Dunia, Messi dan pemain timnas Argentina tentu saja sangat bersiap menghadapi Inggris. Sebuah momen bersejarah setelah dua puluh empat tahun yang lalu ketika mereka harus pulang lebih awal di fase grup setelah kalah dari tim yang sekarang bisa jadi penyebab terulangnya sejarah tersebut. Kalaupun Inggris kalah, Messi yang sudah menua akan meninggalkan Argentina yang lebih tidak siap menghadapi Inggris ke depannya.

Peluang tiap tim memenangkan semifinal dari peringkat Elo, yang dijadikan peluang menang/seri/kalah 90 menit dengan metode ordered logit. (klik untuk perbesar)

Tahun ini, harapan saya untuk melihat “Football has Come Home” diunggah di berbagai media sosial terbatas. Konfrontasi langsung antara Inggris dan Argentina menunjukkan disparitas yang cukup besar. Inggris hanya memiliki 26% kemungkinan menang atas Argentina dibanding dengan 48% kemenangan Argentina atas Inggris. Berbeda dengan Prancis vs Spanyol, masing-masing punya kemungkinan kemenangan 34% vs 38%, yang artinya dua tim tersebut sama-sama dijagokan untuk mencapai final. Jika salah satu dari Prancis dan Spanyol mencapai final, dan di semifinal lainnya Argentina mencapai final, kemungkinan Argentina untuk mempertahankan gelar juara Piala Dunia tahun ini menjadi lebih besar berdasarkan perhitungan kasar peluang bersyarat.

Namun, bola sepak itu bundar. Google saja menerbitkan kemungkinan hasil yang berbeda dengan di atas yang mungkin didasari data yang lebih banyak dan baru ataupun metodologi yang sedikit berbeda. Mungkin data yang diterbitkan oleh FIFA belum cukup untuk memprediksikan dengan benar siapa juara Piala Dunia 2026. Ditambah lagi analisis data menggunakan pemeringkatan Elo ini memang dibangun di atas poin dari kemenangan yang mungkin terwujud atas bantuan FIFA, terlepas dari itu konspirasi atau tidak.

Dan bukankah kita menonton sepak bola sambil menunggu dikejutkan? Seperti ketika Maradona lewat gol “Tangan Tuhan”-nya berhasil membawa Inggris pulang lebih awal di perempat final Piala Dunia 1986 di Meksiko dengan skor 2-1.

Bau serbuk kayu berubah setelah dua puluh empat tahun, menjadi bau kopi. Saya duduk di sudut warung kopi Kulam Kupi Sigli. Sama seperti dua puluh empat tahun yang lalu, pagi sekali saat kursi-kursi masih kosong. Kali ini tidak untuk menulis skor pada pembungkus timah rokok Ardath. Saya duduk bersama Khairul Fahmi, seorang Liverpudlian yang juga menggemari tim nasional Inggris. Fahmi menunjukkan foto dirinya memakai jersey kandang timnas Inggris dengan trofi piala dunia di sampingnya yang diedit menggunakan Gemini.

“Kamu yakin Inggris akan menang lawan Argentina?” tanyaku.

“Mau gimana lagi, ya harus yakin lah. Asal jangan fanatik aja… Seperti kata Coach Justin, dukunganmu terhadap timnas Inggris ga berpengaruh juga buat mereka,” jawabnya ringan sambil tertawa. Kami sama-sama yakin, setidaknya pada Jordan Pickford. Penjaga gawang Inggris yang punya peringkat penyelamatan bola lebih besar daripada Emiliano Martinez.

Namun siapa yang tahu Messi akan tendang bola ke mana?

Subscribe to our newsletter
Social Media
Join us on social media and let's connect!
© 2025 ISSED | ALL RIGHTS RESERVED